Maisuri T. Chalid
Kehamilan risiko tinggi adalah kehamilan yang kemungkinan dapat menyebabkan terjadinya bahaya atau komplikasi baik terhadap ibu maupun janin yang dikandungnya selama masa kehamilan, melahirkan ataupun nifas bila dibandingkan dengan kehamilan persalinan dan nifas normal.
| Kelompok risiko | Penyuit | Bahaya untuk ibu | Bahaya untuk janin |
| Sehubungan dengan penyakit | Hipertensi ( preeklampsia) | Kejang, koma, kematian ibu | Gangguan pertumbuhan, prematur, Kematian janin |
| Diabetes | Komplikasi diabetes akibat kadar gula berlebih (hiperglikemia), , koma, sering disertai hipertensi,hipoglikemia | Bayi besar (>4 kg), gangguan pertumbuhan, kelainan bawaan, dismatur, kematian janin | |
| Penyakit jantung | Sesak napas, Gagal jantung, Kematian ibu | Gangguan pertumbuhan | |
| Penyakit menular seksual | Pd HIV: Penurunan daya tahan ibu, gampang infeksi oleh peny lain (mis: TBC) | Penularan ke janin | |
| Penyakit tiroid | Sesak, krisis tiroid, kematian ibu | Gangguan pertumbuhan | |
| Penyakit sal pernapasan (asma, TBC) | Sesak napas | Kadang gangguan pertumbuhan | |
| Sehubungan dengan umur ibu | >35 th | Kesulitan dalam persalinan (kemampuan mengedan), umumnya umur tua sering disertai penyakit lain (hipertensi, diabetes dll) | Kelainan bawaan |
| < 20 th | Mental belum stabil, tidak siap menerima | ||
| Sehubungan dengan BB ibu/status gizi | Status gizi buruk | Anemia | Gangguan pertumbuhan |
| Status gizi berlebih (overweight, obesitas) | Diabetes, hipertensi, gangguan metabolik,, kesulitan dlm persalinan | Bayi besar, gangguan pertumbuhan janin | |
| Sehubungan dgn riwayat persalinan | Riwayat persalinan prematur | Kemungkinan berulang | Gangguan pernapasan sewaktu lahir (paru belum matang), Bayi berat lahir rendah (BBLR), kematian bayi |
| Riwayat perdarahan saat persalinan | Kemungkinan berulang | ||
| Riwayat Seksio sesar | Kemungkinan berulang, robekan rahim | ||
| Sehubungan dengan kehamilan | Pedarahan; abortus, hamil di luar kandungan, molahidatidosa (hamil anggur), plasenta previa, solusio plasenta | Anemia, perdarahan banyak, infeksi | Kematian janin |
| Sehubungan dengan penyulit persalinan | Panggul sempit | Kesulitan dalam persalinan, seksio sesar, robekan rahim | |
| Bayi besar | Kesulitan dalam persalinan, seksio sesar, robekan rahim | ||
| Kelainan letak (sungsang, lintang) | Kesulitan dalam persalinan, seksio sesar | Lahir asfiksia (kesulitan bernapas) | |
| Polihidramnion (air ketuban banyak, kembar air) | Kesulitan dalam persalinan, perdarahan pasca persalinan | Kelainan bawaan | |
| ehubungan dengan penolong yang tidak terlatih/tdk trampil/tdk kompeten (mis: dukun) | Persalinan yg tdk bersih, kesalahan manajemen | Komplikasi dalam persalinan hingga kematian ibu | Kematian janin/bayi |
Sebenarnya, lebih bijaksana bila kita menganggap bahwa setiap kehamilan mempunyai risiko. Sebab pada kehamilan yang dianggap tidak berisiko-pun, dalam perjalanannya dapat timbul risiko. Atau pada kehamilan dengan risiko, justru pada saat persalinannya berlangsung dengan baik, tanpa timbul risiko yang diperkirakan.
Setiap ibu hamil dianjurkan memeriksakan diri sesuai jadwal yang diberikan oleh dokter/bidan (minimal 4x dalam kehamilan; sekali trim I, sekali trim II, 2x trim III), memahami perkembangan kehamilannya, konsumsi nutrisi yang cukup, istirahat cukup, mempersiapkan fisik dan mental, dukungan keluarga, yang terpenting juga ditolong oleh petugas/tenaga yg terlatih/trampil.
Kematian ibu oleh karena kehamilan/persalinan di Indonesia masih sangat tinggi, tertinggi di Asean. Bandingkan kematian ibu di Indonesia 262/100.000 kelahiran, dengan di Malaysia sekitar 39/100.000 kelahiran, atau Singapura yang hanya 6/100.000 kelahiran, bahkan lebih tinggi daripada Vietnam (95/100.000 kelahiran); Negara yg sudah mengalami perang cukup lama (MMR, 2005).
Masalah kematian ibu di Indonesia sangat kompleks, situasi geografis kita yang sulit, sistem rujukan, infrastruktur/transportasi menyebabkan sulitnya akses mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai, kasus yang dirujuk sering datang sudah terlambat. Distribusi dokter/tenaga kesehatan yang tidak merata, terutama untuk daerah Indonesia Timur (bandingkan dokter spesialis 64% di Jawa, sisanya di luar Jawa, sisa berapa % saja yang di Indonesia Timur?). Belum lagi tingkat pengetahuan masyarakat kita, kultur wanita Indonesia yang lebih banyak diam (pasrah), kultur keluarga yang paternalistik (sehingga pengambilan keputusan untuk merujuk sering terlambat) dll, semua mempunyai kontribusi pada tingginya angka kematian ibu di negara kita. Adalah tugas media untuk turut membantu menekan angka kematian ibu, antara lain dengan penyebaran informasi seputar kesehatan ibu, sehingga ibu, keluarga, dan penolong, mempunyai tingkat kewaspadaan yang tinggi dalam menghadapi setiap kehamilan.
Leave a Reply