Membangun Keakraban

Image

Image Prof.dr.H.A.Arifuddin Djuanna, SpOG (K) , Sama seperti jawaban anak-anak ebanyakan ketika ditanya tentang cita-citanya jawabnya seputar ingin jadi dokter, pilot, atau tentara.  Dana mau tahu jawaban Arifuddin kecil yang kini telah menjadi guru besar tetap Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Unhas tentang cita-citanya?” ingin jadi tentara, jadi pilot pesawat  tempur”, ujarnya mantap. 

Cita-cita ini memang sangat dipengaruhi oleh situasi dan  kondisi negara saat itu dimana peran militer sangat dominan dan selalu tampil sebagai “the hero”.  Namun cita-cita tak selamanya harus terwujud. Pada tahun 1963 setelah menamatkan pendidikan di SMA Frater Makassar, remaja Arifuddin harus menerima kenyataan, ia tak lulus tes tentara.

 

Namun bagi putra kelahiran Barru, 24 Desember 63 tahun silam, gagal tak berarti berhenti.  Hidup menyediakan berbagai macam pilihan.  Beliaupun memutuskan untuk mendaftar kuliah di Universitas Hasanuddin dan diterima di Fakultas Kedokteran.  Katanya dengan  jadi dokter, sama dengan tentara, ia bisa berbakti bagi nusa dan bangsa.

Kuliah di fakultas kedokteran memberinya banyak pengalaman-pengalaman berharga.  Namun satu yang tak terlupakan bahwa di kedokteran ini beliau bertemu putri impian Djauhariah Madjid, yang sekarang adalah seorang dokter anak.
   Dengan kru Buletin IKA-OBGIN beliau berbagi pengalaman disela-sela kesibukannya sebagai Ketua Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Unhas.  Berikut petikan wawancaranya :

Bagaimana pengalaman selama kuliah di fakultas Kedokteran ?
Pengalaman saya banyak, apalagi pengalaman diluar kegiatan kuliah.  Waktu itu saya aktif ikut diberbagai organisasi kemahasiswaan seperti HMI dan KAMMI.  Saat itu adalah zaman pergolakan dimana organisasi kemahasiswaan sangat berperan dalam kehidupan bernegara.  Yang sangat ketika masa pergerakan PKI 30 September 1966. kami bersama teman-teman mahasiswa dari Ujung Pandang (Makassar, red) berangkat ke Jakarta ikut mengamankan sidang umum MPRS.  Sangat ingat waktu itu kami menumpangi kapal “Nenek Mallomo”.  Selama 2 minggu kami berada di Jakarta.

Bagaimana dengan kuliah yang ditinggalkan ?
Waktu itu memang praktis tidak ada kuliah. Semua turun ke jalan.  Di kedokteran kami dikoordinir oleh dr.L.Radjawane seorang ahli bedah.  Kalau tidak salah saat itu kami disponsori oleh Yusuf  Kalla sebagai ketua HMI.

Pengalaman yang berhubungan dengan kuliah ?
Oh ya. Yang paling berkesan adalah saat kami kepaniteraan di Bagian Kedokteran Kehakiman.  Saat itu belum ada di sini jadi kami harus ikut kepaniteraan di Surabaya.

Apa yang membuat tertarik masuk di kebidanan ?
Sebenarnya saya lebih tertarik masuk ke bagian bedah, bahkan saya ikut pendidikan di sana.  Namun istri tercinta tak tega melihat saya terlalu sibuk jaga.

Jadi ?
Karena pada dasarnya saya senang operasi jadi saya pindah bagian yang ada operasinya.  Maka saya pindah ke bagian Obgin.  Tapi setelah pindah ternyata kesibukannya tidak berkurang.

Sebagai Ketua Bagian Obgin Fakultas Kedokteran Unhas, apa saja yang telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan kebidanan ?
Saya berusaha menciptakan suasana yang akrab di dalam lingkungan Obgin FK Unhas, baik itu supervisor, residen, maupun mahasiswa

Kepaniteraan.  Komunikasi yang baik akan mempermudah proses pendidikan.  Kemudian berusaha melengkapi sarana pendidikan supaya kita tidak ketinggalan dengan senter yang lain.
 Sekarang bagian (obgin, red) telah memiliki gedung pertemuan dengan fasilitas bertaraf internasional, elektronik library, dan peralatan canggih.  Selain kita berusaha untuk melengkapi sub divisi.  Dengan demikian kita akan bisa setara bahkan lebih baik dibanding senter pendidikan yang lain.  (Irfan, Ashabul Maemanah)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *