Amankah bila ibu hamil berpuasa selama ramadhan?

Maisuri T. Chalid

Sekalipun diketahui bahwa selama bulan Ramadhan,  Ibu hamil tidak diwajibkan berpuasa, cukup banyak ibu hamil yang dengan berbagai alasan, tetap berkeinginan kuat menjalankan ibadah puasa selama bulan suci ini. “Dapatkah saya berpuasa?” “Tidakkah berbahaya untuk pertumbuhan dan perkembangan janin saya?”  Pertanyaan-pertanyaan ini sering dilontarkan sejak memasuki bulan Ramadhan. Apalagi oleh karena masa kehamilan yang 9 bulan, menyebabkan sebagian besar ibu hamil akan mengalami bulan suci Ramadhan selama kehamilannya.

Sebenarnya banyak studi kedokteran di berbagai negara (Negara-negara Arab, Singapura, Malaysia,  Afrika, Inggris, bahkan Amerika Serikat), yang melakukan penelitian tentang dampak puasa ramadhan terhadap metabolisme ibu hamil, kesejahteraan janin dan luaran persalinan yang dihasilkan.

Beberapa risiko yang dikhawatirkan dapat timbul pada ibu hamil yang berpuasa. Antara lain kemungkinan kurangnya asupan kalori, hipoglikemia (kadar gula darah di bawah normal), bertambah beratnya mual muntah, hingga terjadinya dehidrasi.

Pada kenyataannya, cukup banyak penelitian telah dilakukan dan membuktikan bahwa ibu hamil normal tanpa keluhan, tidak mendapatkan efek yang berbahaya dari berpuasa selama ramadhan. Penelitian di Tunisia, menilai asupan kalori pada ibu hamil selama puasa ramadhan. Di Malaysia, penelitian terhadap terhadap 605 ibu hamil yang berpuasa, menunjukkan tidak ada efek pada berat badan ibu dan berat badan bayi baru lahir. Namun lain halnya di Arab Saudi, jumlah bayi yang lahir dengan berat badan lahir rendah dan kematian bayi baru lahir meningkat pada musim haji dan puasa ramadhan.

Sebuah studi dalam skala besar di Birmingham, dilakukan terhadap 13351 bayi cukup bulan dari wanita Muslim Asia dibandingkan dengan kelompok non-muslim. Penelitian ini membuktikan bahwa berpuasa tidak berakibat pada rata-rata berat badan ibu dalam setiap trimester kehamilannya. Insidens bayi berat lahir rendah pada ibu hamil yang berpuasa pada masa trimester ke-2, tidak berbeda dengan kelompok yang tidak berpuasa.

Bagaimana kesejahteraan janin dalam rahim pada ibu yang berpuasa? Gambaran kardiotokografi (catatan denyut jantung dan gerakan janin) menunjukkan hasil yang tidak reaktif selama fase puasa, namun kembali reaktif setelah berbuka puasa. Penelitian lain membuktikan bahwa ibu hamil yang berpuasa, tidak mempunyai efek pada prematuritas dan skor apgar bayi baru lahir.

Kondisi kelaparan (starvasi) selama berpuasa dapat memicu terjadinya perubahan metabolik dari pemecahan glukosa (glikolisis) menjadi pemecahan lemak (lipolisis) sebagai cadangan energi, yang pada gilirannya akan menghasilkan benda keton. Benda keton beredar dalam darah dan dikeluarkan dalam urin. Pada kondisi keton berlebihan (ketoasidosis), keton dapat melewati sawar plasenta dan berbahaya untuk perkembangan otak janin, di samping dapat mengganggu fungsi kognitif dan perkembangan perilaku di masa kanak-kanaknya kelak.

Pada kenyataannya, penelitian menunjukkan peningkatan kadar keton hanya didapatkan pada 2 orang dari 61 ibu hamil yang berpuasa. Disimpulkan pula bahwa produksi keton pada ibu hamil yang berpuasa tidak seberat pada keadaan diabetes maupun kekurangan gizi. Berpuasa pada ibu hamil normal selama kurang dari 15 jam didapatkan secara metabolik tidak berbeda dengan keadaan “puasa fisilogis” selama tidur pada malam hari (overnight fasting).

Untuk meneliti efek jangka panjang puasa ramadhan terhadap perkembangan  otak anak, Unit Penelitian Ramadhan di Negara Arab, sedang melakukan studi terhadap IQ dari 98 anak dan remaja antara umur 4-13 tahun, yang ibunya berpuasa sewaktu hamil  selama ramadhan, dibandingkan dengan kelompok anak pada umur yang sama di mana ibunya tidak berpuasa sewaktu hamil, namun hasilnya belum dipublikasikan.

Adanya kesenjangan antara teori yang mendasari kemungkinan risiko ibu hamil berpuasa dan kenyataan yang didapatkan dari beberapa penelitian tadi, akhirnya bermuara pada pertanyaan: Apakah ini bagian dari mukjizat ramadhan? Maha Suci Allah, dengan segala keluasan ilmuNya.

Walaupun secara umum tampaknya beberapa penelitian cukup meyakinkan, para ahli masih menganggap bukti penelitian yang ada belum adekuat untuk merekomendasikan, bahwa berpuasa selama kehamilan akan benar-benar aman, terutama untuk janinnya. Banyak penelitian yang ada dinilai masih berskala kecil dan secara metodologik mempunyai banyak kelemahan. Juga beberapa risiko secara teoritis belum sepenuhnya diteliti seperti efeknya terhadap jumlah cairan ketuban, kadar bakteri dalam urin, kadar substansi metabolik janin dll.

Lalu bagaimana tips bila ibu hamil tetap berkeinginan puasa dalam bulan suci Ramadhan?
–    Pertama dan paling penting, konsultasikan pada dokter kebidanan Anda, yang lebih mengetahui riwayat dan keadaan kehamilan Anda.
–    Sangat dianjurkan untuk tidak berpuasa pada ibu hamil dengan diabetes, hipertensi, riwayat gangguan nafsu makan (anoreksia atau bulimia), gangguan sistem pencernaan, riwayat batu ginjal, riwayat persalinan prematur, riwayat luaran persalinan jelek, kurang gizi, semua kondisi yang mengharuskan minum obat sepanjang hari.
–    Prinsip yang terpenting adalah nutrisi yang seimbang dan cairan yang cukup (minimal 2 liter air antara buka sampai sahur).
–    Diet tinggi serat, sayuran, buah, protein (ikan, kacang-kacangan dll)
–    Hindari garam dan gula berlebihan, juga kafein (kopi).
–    Minum air, susu dan jus buah sebelum imsak.
–    Sebelum tidur malam, snack termasuk air atau jus, protein (susu) dan buah.
–    Hindari aktivitas berlebihan dan cuaca panas, tidurlah yang cukup.
–    Beberapa tanda waspada/ yang harus diperhatikan: kurangnya gerakan janin pada malam hari, kontraksi prematur, mual/muntah, sakit saat buang air kecil, demam, nyeri pinggang, lemas, kelelahan, pusing, dan sakit kepala.
Bagi dokter/ bidan yang merawat:
–    Jadwalkan kunjungan yang lebih sering dan observasi lebih ketat, tawarkan informasi tertulis, analisis urin setiap minggu; pengambilan sampel urin pada siang hari untuk analisis keton (pengambilan sampel pada pagi hari dipengaruhi  oleh overnight fasting), bila perlu rujuk ke ahli gizi, untuk pengaturan menu.
–    Bila oleh karena kondisi medis ibu hamil tidak dianjurkan berpuasa, jelaskan secara hati-hati risiko yang akan timbul, beri dorongan tentang begitu banyak kegembiraan dan lapangan beramal sholih di bulan suci, seperti sholat di mesjid dan membaca Al-Qu’ran tanpa diganggu waktu haid, memasak untuk keluarga yang berpuasa, berinfaq, dll.
Seorang ibu hamil dengan dukungan keluarga, seharusnya menentukan pilihan yang paling bijak untuk kehamilannya. Memaksakan diri berpuasa, padahal akan berdampak buruk pada kehamilan maupun janinnya, tentunya tidak akan mendapat ridho Allah SWT.

Sebenarnya Allah SWT sendiri tidak mewajibkan ibu hamil berpuasa, hal ini menyiratkan betapa Maha Pengasihnya Allah; yang tidak ingin menyengsarakan mahlukNya, bahkan terhadap janin yang begitu kecil sekalipun.

Semoga bermanfaat ! (dr. Maisuri T. Chalid, SpOG, Divisi Fetomaternal, Bagian Obstetri & Ginekologi, Fakultas Kedokteran UNHAS, email: fetomaternal_mks@yahoo.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *